Contoh Cerita Pendek
Jangan Lupa Bersyukur
Alvira,
Adalah seorang anak Perempuan Sekolah Dasar yang baru menginjak di bangku kelas
6. Alifia memiliki 1 Adik Laki-Laki yang menempati bangku pendidikan di sekolah
kelas 5 yaitu Alvaro. Mereka Tinggal di sebuah rumah yang berada di sekitar
pinggiran pantai Prangtritis, Daerah Istimewa Yogyakarta. Alvira dibesarkan
oleh salah satu orang tuanya yaitu sang Ayah. Dimana sang Ibu telah meninggalkannya
sejak berumur 2 tahun. Entah kenapa Alvaro selalu jahat dan tidak begitu suka
dengan kakaknya.
Pagi
Hari, Senin, 2 Maret 2018 Alvira berangkat ke Sekolah dengan menggunakan sepeda
pemberian ayahnya menurut Alvira sepeda ini sangat membantu untuk perjalanan ke
sekolah. Alvira adalah Siswi yang biasa biasa saja tetap anak ni selalu beran
untuk mencoba hal hal baru dan berani bertanggung jawab.
Ting Tong .,.,.,.,.,. (Bel pulang
berbunyi)
Alvira
bertemu dengan teman temannya di depan kelas yaitu Beny, Erpan, Dan Alifia.
Mereka mengajak Alvira untuk bermain sepulang sekolah di taman tempat biasa
tetapi alvira menolak , tak biasanya menolak tawaran ini biasanya Alvira
langsung ikut bermain dengan mereka.
Beny : “Vira
Nanti sore pukul 3 kamu mau main gak di taman tempat biasa?”
Erpan : “Btw nanti
main apa emang?
Beny : “Lihat aja
nanti.”
Alifia : “Yang
pasti dong gua sama Alvira butuh kepastian yang jelas, kita gak mau di php in
nih ya gak?”
Alvira : “iya.”
Alifia : “tuh
dengerin pake kuping.”
Erpan : “Ya masa
pake mata kan lucu.”
Alifia : “Makasi
ya di bilang lucu emang dari lahir kok.”
Erpan : “Aduh
rasanya ingin mual.”
Beny :
“Udah-udah, Gimana Vir bisa gak kami semua bisa hanya kamu aja yang belum
kepastiannya?”
Alifia : “Asyeek,
Kepastian gak tuh.”
Beny : “Hmmm,
Gimana Vir?”
Alvira : “hmmmm,
Maaf ya aku gak bisa aku ada sesuatu yang harus aku tanyakan ke ayah.”
Alifia : “Aduh di
tolak gimana tuh?”
Erpan : “Yah elah
bentar doang kok gak sampe malam gini.”
Beny : “iya
santuy bentar doang kumpul aja kumpul, absen doang deh.”
Alifia : “.”
Beny : “Ok lah
kalo begitu.”
Alvira kemudian meminta maaf kepada teman
temannya dan kemudian menuju rumahnya.
Alvira : “Aku minta
maaf ya gak bisa ikut kalian?”
Beny : “Iya.”
Alvira
langsung menuju kerumahnya. Setelah sampai dirumah Alvira langsung menemui
ayahnya dan bertanya “Ayah, Vira mau tanya”
Ayah : “Tanya
apa?”
Vira : “Yah sebenarnya ibu kemana yah?Vira merindukan Ibu..”
Ayah :
“kamu belum cukup dewasa untuk mengetahui ini Vira tugasmu hanyalah belajar
dan membantu orang tuamu ini, mungkin suatu saat kamu akan mengerti Vir.”
(Tiba-Tiba
Alvaro datang menghampiri)
Alvaro : “ ngapain nyariin ibu udah gak sayang gak
usah sok peduli ibu aja gak peduli sama kita emang ibu nyariin kita gak kan,!”
Alvira : “Alvaro kamu ini bicara apa?”
Alvaro : “Bacot amat udah mau main.”
Ayah : “Hey, Alvaro kamun gak boleh seperti itu
Alvaro : “Bodo Amat.”
Matahari
mulai tenggelam, sore mengampiri ,ombak bergemuruh mengiringi senja yang sunyi.
Alvaro puang kerumah. Sedangkan Alvira sedang membantu ayah yang sedang memasak
makanan yang akan di hidangkan untuk makan malam.
Alvaro : “Aku pulang..”
Alvira : “Udah kamu mandi makanan sebentar lagi sudah
siap.”
Alvaro : “Iya kak.”
(Sesaat Alvaro selesai mandi mereka kemudian langsung
makan makanan yang telah di hidangkan sambil berbincang)
Ayah : “Varo kamu
tadi main kemana?”
Alvaro : “Keppo.”
Alvira : “Alvaro
kamu gak boleh kayak gitu.”
Alvaro : “siapa?”
Alvira : “Kamu.”
Alvaro : “Tapi saya
gak peduli.”
Alvira : “Dikasih
tahu juga.”
Alvaro : “Gak mau
maunya tempe.”
Ayah : “Sudah Sudah sambung makan habis itu
belajar dan tidur.”
Selasa, 3 Maret 2018
Alvaro
dan Alvira berangkat sekolah dengan menggunakan sepeda. Setelah sampai Alvira
berjumpa dengan temannya.
Alifia : “Alvira,
sini?
Alvira : “Ya ada
apa.”
Alifia : “nanti
sore kamu bisa ikut kan?”
Alvira ; “Ok nanti
aku bisa.”
Alifia : “Sepulang
sekolah kamu siapin kaleng atau wadah ya.”
Alvira : “Untuk
apa?”
Alfia : “Nant
juga tahu”
Bel masuk berbunyi semua siswa
masuk ke kelasnya masing-masing. Setelah belajar waktu istirahat pun tiba.
Alvira kemudian berangkat ke kantin dan membeli nasi goreng dan kebetulan
Alvira menemukan sebuah kaleng kerupuk yang sudah tidak terpakai tergeletak di
samping stand penjual nasi goreng. Alvira pun meminta kaleng tersebut.
Alvira : “Maaf bu
saya mau tanya?”
Penjual :
“Tanya apa kalo pasal laki laki saya gak jago ya.”
Alvira : “Hmmmmm,
Ya gak lah..”
Penjual :
“Ohh kirain. Emang tanya apa?
Alvira : “itu tuh
kaleng yang ini itu masih dipakai sama ibu apa gak?”
Penjual :
“Oh gak kok emg buat apa?
Alvira : “buat
mainan nanti”
Penjual :
“Emang mau mainan apa gendangan?”
Alvira : “Gak tahu deh ini permintaan teman saya.”
Alvira : “Gak tahu deh ini permintaan teman saya.”
Penjual :
“Awas lo nanti di kibulin”
Alvira : “gak kok
bu. Saya ambil ya bu?”
Penjual :
“Oh ya silahka….”
Alvira kemudian membawa kaleng
itu ke kelasnya dan saat sampai di kelas alvira di tertawakan temannya dikira
mau ngamen. Tetapi, Alvira menghiraukan perkataan/Cacian dari teman temannya.
Saat guru sampai guru menanyai Alvira perihal kaleng bekas itu. Tetapi sang
guru kemudian berdiam setelah Alvira menjelaskannya.
Saat setelah mengumpulkan kaleng
kaleng tersebut Alvira mua berpikir kembali dan ngin menanyakan kepada Alifia.
Alvira : “ Aku
masih penasaran perihal kaleng bekas ini, memangnya mau di apakan Lif?”
Alifia : “Nati
kamu juga tahu santai aja”
Alvira : “Oh
yaudah.”
Alvira kemudian lansgung
menyimpan kaleng tersebut dan masih bingung maksud dari alifia tersebut. Bel
sekolah berbunyi Alvira kemudian mengunjungi Alifia. Ternyata mereka sudah
berkumpul di depan gerbang dan sedang menunggu Alvira. Alvira langsung
menghampiri mereka.
Alvira : “Hei sudah
lama ya maaf ya tadi aku mencari Alifia aku kira alifia sudah di kelas eh
ternyata sudah disini.”
Alfia : “hehehe
sorry, yaudah yuk kita langsung keliling?”
Erpan : “Kuy lah.”
Alifia : “Alifia
mulai bingung maksud mereka semua apa tujuan di balik in semua.
Setelah sampai di lampu merah
alifia kemudian meminta sumbangan kepada orang yatim piatu dan orang orang
gelandangan. Alvra sadar betapa kasiannya anak yang tidak memiliki rang tuanya
dan yang di tinggal oleh kedua orang tuanya hal ini seperti kisah Alvira,
tetapi Alvira kemudian bersyukur kepada tuhan atas apa yang telah Engkau
berikan kepadaku.
Baca Juga : DOWNLOAD KINEMASTER PRO MOD APK PREMIUM
Lantunan
Sendu Melodi Biolaku
Mungkin
aku memang tak sempurna. Sedari kecil tak ada yang mau menerima kekuranaganku.
Tak terkecuali orangtuaku sendiri. Bahkan nama indah yang kupunya bukan
pemberian mereka. Namaku Angelica Melodi. Nama indah pemberian mendiang
kakekku.
Dua
bulan lalu langit seperti runtuh menimpaku. Hidupku bagai telah berakhir.
Satu-satunya orang yang menerimaku dengan penuh senyum pergi meninggalkanku.
Bukan untuk sesaat. Bukan untuk sekejap. Ia telah pergi jauh menghadap Tuan
hidup.
Hidupku
kembali terombang-ambing. Ingin hidup tak ada alasan lagi. Tapi mimpi mendiang
kakekku yang beliau titipkan padaku belum juga kuraih. Berkali-kali kupikirkan
semuanya, berkali-kali juga aku menyerah. Pasrah.
Kulangkahkan
kakiku mantap menuju panggung impianku bersama mendiang kakekku. Sedikit senyum
kusunggingkan menambah semangatku. Kuingat kembali kata terakhir mendiang
kakekku.
“Tunjukkan
alunan melodi indahmu. Biarkan seluruh dunia tahu. Jangan biarkan mereka
hentikan langkahmu walau hanya selangkah. Kakek yakin kamu pasti bisa.”
Kulihat
sayup-sayup mata yang memandangku aneh tak percaya. Melihatku berada di
panggung ini. Memang aku tak berdiri. Aku duduk di atas kursi roda yang
menompang tubuhku. Kursi roda yang mungkin bisa dikatakan saksi bisu pahitnya
duniaku. Yang menopang tubuh rentaku sedari kecil.
Terkadang
aku merasa iri dengan mereka yang dapat berlari sejauh mereka mau, menaiki
sepeda sekadar berkeliling taman. Hal-hal yang tak bisa kulakukan sendiri tanpa
kaki renta tua itu. Sepasang kaki milik mendiang kakekku.
Ku
mulai menarik napasku perlahan. Kusadari puluhan mata di depanku melihatku
dengan tatap cerca. Kuhela napasku lagi. Ku mulai memainkan melodi-melodi indah
biolaku. Perlahan tatap cerca itu luluh. Ku mulai menikmati melodi biolaku.
Satu
persatu suara telapak tangan bertemu mengiringi akhir permainan biolaku.
Sungguh aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Setetes cairan bening terjun
bebas tanpa malu-malu membasahi pipiku.
“Mimpimu
telah kuraih.”
Nasihat
Terakhir Dari Mama
Namaku
Alya Nafriza Chintia Sari. Biasa dipanggil Alya. Aku berumur 13 tahun. Saat ini
aku duduk di bangku SMP. Aku tinggal di Jl Pancasila no. 5 bersama mama dan
kakakku. Ayahku sudah meninggal sejak aku berumur 9 tahun dikarenakan
kecelakaan tunggal di jalan raya. Aku bisa merelakan hal itu karena itu adalah
kehendak Allah.
4
Tahun berlalu..
Sekarang
adalah hari ini. Hari dimana aku bersekolah pada pagi hari. Aku pun bergegas
pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, aku melaksanakan sholat shubuh. Aku
mendoakan ayah agar diberi tempat yang layak di sisi Allah SWT. Selesai sholat,
aku pergi ke ruang makan untuk sarapan pagi. Tampaknya mama dan kakak sudah
menungguku dari tadi.
“Lama
banget sih. Ngapain aja?” Keluh kakakku, Dita
“Kalau
nggak sabar ingin makan, gak usah tunggu aku deh!” Jawabku dengan nada marah
“Sudah-sudah,
kalian berdua gak boleh berantem. Harus akrab!” Tegas mama
“Iya
ma…” Balas kakak
Selesai
makan, kami berdua diantar mama ke sekolah. Aku diantar paling dulu oleh mama,
sedangkan kakakku terakhir.
“Ma,
Alya sekolah dulu ya… Assalamu’alaikum” sambil melangkah pergi masuk ke gerbang
sekolah
“Iya,
Wa’alaikumsalam”
Aku
pun melaksanakan kegiatan sekolah hari ini dengan baik. Selesai bersekolah hari
ini, aku pulang. Aku menunggu mama menjemputku di tempat biasanya. Entah
kenapa, hari ini mama telat untuk menjemputku.
“Hai
Alya! Lagi ngapain?” Teriakku temanku, Dini, sambil berlari ke arahku.
“Ini
lagi tungguin mama jemput aku.”
“Oh..
Aku duluan ya”
“Oh
iya, sampai ketemu besok pagi ya”
“Iya..”
sambil pergi menjauh
30
menit berlalu..
Mobil
mama pun terlihat. Aku kesal karena mama menjemputku terlambat.
“Mama,
mama kok lama sih jemput aku? Mama ngapain aja?” Tanyaku dengan nada kesal
“Maaf
sayang, tadi ada meeting dadakan. Jadi mama terlambat deh nyusul kamu. Maaf ya
sayang?” jawab mama dengan nada bersalah
“Iya
deh, gak papa..” Jawabku singkat
Mobil
mama pun melaju dengan kencang dan meninggalkan tempat dimana aku menunggu
mobil mama. Sesampainya di rumah, aku pun langsung mengganti bajuku, mandi,
lalu tidur. Malam harinya, aku bermimpi mamaku tewas saat hendak pergi ke
kantornya. Tiba-tiba aku terbangun. Untung saja ketika aku bangun, hari sudah
menjelang pagi. Aku bergegas pergi ke kamar mandi. Aku masih terbayang dengan
mimpi buruk itu. Tetapi, aku ingat akan nasihat dari mama, “MIMPI HANYALAH
KHAYALAN SEMATA SAJA”, sehingga aku merasa lega.
Hari
ini pun berjalan seperti biasa. Akan tetapi, mama terlambat menjemputku lagi.
Aku menunggu hingga 1 jam, tetapi mama tidak kunjung datang. Tiba-tiba HP ku
berbunyi. Ternyata kakakku yang menelponku. Kakak memberi tahuku kalau mama
kecelakaan saat pergi ke kantor. Aku tak kuasa mendengarnya. Aku pun pergi ke
rumah sakit yang sudah diberi tahu oleh kakakku.
Sesampainya
di rumah sakit, aku melihat mama terbaring lemas dengan infus yang menancap di
tangannya. Aku menunggu mama untuk terbangun. Lama sekali.. Hingga keesokan
harinya ketika aku dan kakak masih tertidur pulas, tiba-tiba mama mengelus
kepalaku. Aku pun terbangun lalu aku membangunkan kakakku. Aku tahu kalau mama
ingin menyampaikan sesuatu. Aku pun mendekatkan telingaku ke mulut mama. Aku
mendengar mama mengucapkan sesuatu. Satu kalimat penuh nasihat dan harapan.
Kudengar mama mengucapkan, “Alya, Alya sama kak Dita gak boleh bertengkar lagi
ya. Rukun ketika mama pergi.” tiba-tiba mama sesak nafas, lalu menghembuskan
nafas terakhirnya. Aku dan kakak bersedih. Dan kata-kata terakhir yang
diucapkan mama bagi kami berdua seperti nasihat terakhir dari mama.
Kebahagiaan
Untuk Ibu
Aku
melihat kesedihan yang mendalam dari matanya. Matanya yang dulu semangat kini
seakan rapuh, bagaikan pohon yang sudah berumur ratusan tahun. Aku merasa
kasihan kepada ibu karena semenjak ayah meninggal, ia harus mencari nafkah
sendiri untuk menghidupi aku dan adikku.
Aku
mendekapnya guna menyampaikan bahwa ia tidak sendiri kami akan terus berada di
sampingnya sampai kapanpun, Ia segera mengemas kesedihannya juga mengokohkan
batinnya. “Ibu tidak apa-apa nak!” suara lirihnya berusaha menyampaikan bahwa
Ia cukup tegar dan ikhlas atas kepergian Ayah.
Tentu
saja aku belum percaya, karena matanya masih tetap menggambarkan betapa sedih
dan rapuh dirinya, karena kepergian ayah.
Kini
sudah 3 tahun ayah meninggal, pergi tanpa pesan dah hanya air mata terakhir
yang ia perlihatkan. Entah itu pesan terakhir atau hanya tanda perpisahan,
perpisahan terhadap penyakit yang bertahun-tahun dideritanya.
Hanya
waktu yang membuat aku, adikku dan Ibu ku lambat laun dapat mengikis kesedihan
yang kami derita.
Hari
demi hari kami lewati bersama. Aktivitas, rutinitas dan kerja keras yang telah
ibu lalui demi membesarkan kami pun tidak sia-sia.
Ibu
mampu menyekolahkan aku dan adikku sampai perguruan tinggi, hingga aku berumur
25 tahun dan sudah bekerja. Terjejali dengan aktivitas dan rutinitasku di
kantor yang tidak ada habisnya ini, bagiku rumah kini hanya menjadi tempat
untuk beristirahat dan memejamkan mata.
Malam
pun datang, hingga di benakku terus memikirkan. “Bagaimana Keadaannya?”,
“Bagaimana Kondisinya?”, “Apakah Ia Sehat?”, “Apakah Ia Baik-baik Saja?”.
Terlebih adikku bekerja di luar kota, ia hanya pulang 1 bulan sekali, dan
jarang sekali pulang untuk menemui Ibu.
Libur
lebaran pun telah tiba aku dan adikku berencana pulang ke rumah untuk menemui
ibu dan bersilaturahmi. Aku, Adikku, dan Ibu ku akhirnya berkumpul kembali,
setelah lama tidak berjumpa karena kesibukan di kantorku. Kami asyik mengobrol,
bercerita dan bercanda tawa sampai-sampai aku sudah lupa dengan semua letih
yang aku alami karena kesibukanku.
Aku
pun bertanya kepada Ibu “Ibu! Maaf aku tidak bisa selalu berada di samping
Ibu!” Ibu tersenyum “Tidak apa-apa nak Ibu sudah bahagia bisa bertemu kamu
walaupun sebentar!” aku memeluk ibu dan bertanya “Tapi setiap malam aku selalu
memikirkan ibu!!, Apakah ada yang bisa aku lakukan untuk membahagiakan ibu?”
Ibu pun kaget dan terdiam beberapa saat, “Ibu akan bahagia jika kamu menikah
nak!, Kamu kan sudah umur 25 tahun, jadi sudah saatnya kamu punya istri!” Aku
pun juga kaget dan menjawab “Tapi bu?, aku masih belum memikirkan hal itu, aku
ingin membahagiakan ibu dulu!” dengan lembut ibu berkata “Dengan kamu menikah
kamu sudah sangat membahagiakan ibu mu nakk!!”.
Aku
masih memikirkan perkataan ibu tentang menikah, karena aku belum siap untuk
itu. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk menikah dengan Rina, Rina adalah
pacarku sejak aku masih kuliah hingga aku sudah bekerja. Aku bertanya kepada
Rina, “Rin maukah kamu menikah denganku, Untuk menjadi istriku dan demi
membahagiakan ibuku?” Rina menjawab “Iya aku mau demi Cinta dan demi ibumu!”.
Hingga
tanggal yang sudah kami rencanakan untuk menikah, tiba-tiba ibu jatuh sakit dan
harus dirawat di rumah sakit aku sangat sedih, dan menyesal pada ibu. 1 hari
sebelum aku menikah akhirnya ibu sembuh dan di perbolehkan untuk pulang, Aku
sangat bahagia dan senang. Sampai tibalah waktu Ijab Qobul, dan aku telah
menjadi suami halal Rina.
Aku
sangat senang karena bisa membahagiakan ibu, Aku memeluk ibu dan berkata, “Ibu
akhirnya aku bisa membahagiakan ibu!” Ibu hanya meneteskan air mata, tanpa
berkata apa-apa. Tiba-tiba saja ibu jatuh, dan ia meninggal dengan tenang. Aku,
Adikku, dan Istriku pun meneteskan air mata, dan sangat kehilangan atas
kepergian ibuku. Tetapi aku senang bisa MEMBAHAGIAKAN IBU di akhir hayatnya.
Sebuah
Asa
Aku
terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan tak mempunyai banyak materi,
sedari kecil orang tuaku selalu mengajarkan kepadaku apa arti bersyukur, dan
dari situlah aku selalu berusaha menghargai apa yang telah aku miliki dan aku
selalu mencoba selalu mengucap syukur meskipun terkadang aku sulit untuk
mengatakannya.
Sekitar
umur 8 tahun aku yang seharusnya menjadi anak bungsu akhirnya mempunyai adik
karena ibuku “kebobolan” untungnya saja ibuku melahirkan normal meskipun ketika
ibuku melahirnkan usianya sudah paruh baya dan memang menurut pandangan dokter
sudah sangat rawan melahirkan di usia yang menjelang senja, adikku lahir dan
mulai mengirup udara bumi pada tanggal 10 november 1995, adikku sangat cantik,
bayi perempuan kulitnya putih kemerahan dan matanya yang masih terkatup belum
sanggup tuk melihat dunia, semenjak ia keluar dari rahim ibukku ia hanya
menangis sambil menendang-nendang kaki mungilnya… dan ketika adikku mulai di
bersihkan dan di chek ternyata adikku lahir tidak sempurna… astaghfirullah…
kaki adikku cacat.. telapak kakinya tidak seperti kaki normal orang kebanyakan,
ada rasa sedih yang menyelimuti hatiku, kakak-kakakku, terlebih ibuku yang
sudah pasti mengarapkan anaknya terlahir normal karena tak ada bayaran rasa
sakit yang membahagiakan saat melahirkan selain seorang ibu yang melahirkan itu
melihat anaknya terlahir sehat dan sempurnya, tapi itu sudah kehendak Allah SWT
sebagai manusia yang hanya menerima pemberian-Nya hanya bisa bersyukur meskipun
sulit.
Tahun
pun beranjak adikku tumbuh menjadi balita yang pintar dan sangat menggemaskan
tubuhnya yang gemuk padat, rambutnya yang pirang hingga kami kakak-kakaknya
tambah menyayangi kehadirannya di tengah keluarga besar kami, aku 6 bersaudara
dan aku anak kelima, meskipun di awal aku kecewa harus mempunyai adik lagi
terlebih ada juga rasa malu karena kondisi ibu sudah sangat kurang pantas untuk
memiliki lagi bayi, tapi lama kelamaan aku sangat menikmati peran baru dalam
hidupku yaitu menjadi seorang kakak, dan sejak saat itu aku mulai berjanji akan
selalu menyayangi dan melindungi adik mungilku nan lucu itu.
saat
aku lulus sekolah aku mulai mencari pekerjaan untuk membantu kebutuhan
keluargaku yang sudah tak bisa lagi mengandalkan penghasilan dari abahku yang
sudah mulai renta, dan aku bersyukur aku bisa mendapatkan pekerjaan yang
penghasilanya bisa sedikit membantu sekalipun hanya bisa untuk menutupi spp
adikku, aku sadar aku hanya manusia biasa yang terkadang lelah dengan
tantanngan hidup yang cukup sulit, aku juga mengalami pelajaran hidup dari
pengalamanku aku tak lepas dari masa-masa pencarian jati diri, tapi bersyukur
aku memang sempat mengenal dunia anak muda yang suka hura-hura, tapi tak
berlangsung lama, karena aku sangat menyadari siapa aku dan apa tujuan aku
hidup.
salah
satu kalimat yang membuat aku tak pernah ingin berhenti untuk semangat adalah
tentang cita-cita dalam hidupku, aku kepingin hidupku bisa berarti untuk orang
lain. ya itu adalah mimpiku yang terindah yang masih terukir dalam hatiku
hingga kini, aku akan terus berusaha sampai aku sudah tak sanggup utuk
bernafas, aku tak mau gagal… tolong aku ya Allah.
26
mei 2013…
Lama
sekali aku tak membuka dairy ini.. Tak terasa air mataku mengalir hangat di
pipi membaca sepenggal cerita yang aku tulis ini. Kini dalam hatiku aku
berbisik.”aku bangga menjadi aku”
Ya…!!!
Saat ini hujan turun tak kunjung reda sejak dari jam 1 siang tadi.. Aku masih
duduk di dalam bis sepulang dari kampus tempat aku menuntut ilmu mengejar cita
cita ku. Dari dalam bis aku melihat hujan yang membasahi jalan dan membuat kaca
jendela lembab berembun.. Yang kufikirkan aku sangat bersyukur atas segala nikmat
Allah SWT yang masih memberikan padaku kesempatan yang selalu aku cari..
Mimpiku
banyak sekali
Meskipun
aku tau semua itu sulit namun kini kakiku sudah mulai melangkah dan perjalanan
ku masih sangat jauh tentunya…
Adikku
yang manis masih belajar menuntut ilmu di sebuah sekolah yang sangat jauh dari
rumah dan aku selalu tak pernah berhenti berharap agar dia bisa menjadi anak
yang berguna..
Teruslah
semangat adinda .. Nyimah akan jagain kamu sampai kamu biasa.
Kata
Terakhir Suparto
Suparto
adalah guruku Bahasa Indonesia. Sebulan lalu ia berganti tugas dari smp harapan
jaya III ke Smp Sukakarya. Dia sering di ejek oleh teman-temanku dari belakang,
Teman-temanku berbuat begitu lantaran mereka kesal karena dia memberi tugas
yang berat-berat dan sifatnya yang galak.
Dari
kecil aku Senang dengan pelajaran bahasa indonesia, jadi tak jarang jika nilai
ujianku selalu sembilan ke atas. Siapapun gurunya aku tidak mengenal galak
ataupun gimana. Memang pak Suparto suka dengan prestasiku Katanya aku
membuatnya bangga.
Hari
ini waktuku lomba membaca puisi. Beliau rencananya akan mendampingiku. Namun
nasib sial terjadi pada perjalanan. guru itu mengalami kecelakaan sehingga dia
kritis di rumah sakit setempat. aku sangat sedih. aku membatalkan lomba puisi
itu untuk menjenguk guru bahasa indoneisaku itu. Namun tuhan telah memutuskan.
aku kehilangan guru itu. aku teringat pesanya. “belajar yang rajin, jangan lupa
berdo’a, dan pasrahkan hasilnya kepada tuhan,” aku sedih. walaupun temanku
berkata tentang pak suparto guru yang inilah, gitulah, akan tetapi dia guru
terbaiku. pak Suparto aku takkan pernah lupa nasihatmu.
Senyumku
Akan Menantimu
Aku
tertegun ketika melihat sekelilingku. Yaps… rasa maluku tiba-tiba muncul
kembali. Ku tundukkan wajahku dengan hati-hati. Kenapa Tuhan bisa memberiku
cobaan ini..?
‘ANAK
TUKANG KEBUN YANG GAK TAU MALU’. Ya, kalimat itulah yang muncul dalam papan
tulis kelasku.
Ku
gerakan kaki ini untuk segera menghapus tulisan itu. Ku dengar seisi kelas
mencibir. Biarlah… toh aku sudah tahu tulisan ini ditujukan untukku.
“Huh…”
sorakan mereka yang seketika itu membuat hatiku semakin panas. Namun ku
mantapkan hatiku agar tetap tegar. Lagian aku sudah terbiasa kan…?
Huff…
aku harus sabar, aku nggak boleh ngelawan mereka. Tau diri dong… aku tuh siapa?
Cuma anak tukang kebun sekolah yang nggak sebanding dengan mereka.
Pagi
itu, mendung menggelayuti lukisan langit yang tadinya cerah. Kurasakan
kewas-wasanku ketika Bu Okky, wali kelasku membawa seorang gadis yang sangat
cantik. Ya Tuhan, apakah dia akan menambah jumlah orang yang membenciku…?
“Anak-anak
kalian akan dapat teman baru, ayo perkenalkan dirimu!”
“Nama
saya Almira Amitha. Kalian bisa memanggil saya Mira”
“Sudah,
Mira? Sekarang kamu duduk di sebelah Alya!”
Aku
terkejut. Apa aku tidak salah dengar? Biasanya semua guru mengucilkan ku, sama
dengan semua teman di kelasku. Ya seharusnya aku memang mendengarkan nasehat
orangtuaku agar tidak bersekolah di sini. Karena SMP ini memang khusus untuk
kaum elit saja. Apa boleh buat, itulah keegoan yang sedang menguasaiku waktu
itu hingga akhirnya aku menjadi menderita karena keegoanku sendiri.
“Nama kamu siapa?” kata Almira membuyarkan
lamunanku.
“Alya.”
“Aku udah tau, aku cuma pengen tau nama
pnjang kamu”
“Alya Imla Fiqih” jawabku dengan volume
yang lirih, takut diejek karena kejelekan namanya.
“Wah bagus banget aku suka nama kamu”
pekiknya kegirangan.
Kurasakan kenikmatan atas pujian itu.
Namun aku tidak tahu mengapa Almira tiba-tiba pingsan. Aku terkejut dan ku duga
semua orang pasti menyalahkan ku.
Ku
coba angkat tubuhnya, namun semua orang tak menghendaki ku ditepisnya janganku
oleh mereka. Lalu mereka beramai-ramai membawa Almira ke UKS. Kuikuti mereka
dari belakang. Lalu kuintip jendela UKS itu.
Terenyuh…
hatiku tiba-tiba. Kemudian aku kehilangan kendali dan ambruk di lantai. Ya
Tuhan kenapa kau cabut nyawa satu-satunya yang ku punya di sekolah ini…
Dalam
ingatanku yang masih bekerja walau samar-samar “AKU AKAN MENJADI SENYUM YANG
SELALU KAU NANTI”
Hanya
Bisa Sebatas Mengagumimu
Tak
pernah terlewatkan pena ini menggoreskan kata indah bagiku tentangmu. “Cinta”
ya, itulah kata yang masih asing bagiku. Aku tahu, cinta adalah sebuah rasa
kasih sayang, bukan sebuah rasa permainan. Dan di dalamnya perlu sebuah
kedewasaan. Aku mengenalmu satu tahun yang lalu. Pertama aku mengenal sosok
kamu, yang aku tangkap dari sinyalku adalah decak kekaguman. Aku pandang kau
sebagai orang yang berbudi pekerti luhur, santun dalam perilaku dan lisan. Dan,
entah datangnya dari mana, rasa ini semakin tumbuh subur di hatiku.
Aku
tau kita berbeda, kau tak akan pernah punya rasa yang sama denganku. Aku adalah
gadis biasa, dengan penampilan sederhana, dengan paras yang tidak rupawan. Aku
tidak pernah berfikir, kelebihan apa yang ada pada diriku, sehingga aku hanya
bisa mengagumi dan mengagumi.
Dapat
melihatmu adalah kenikmatan tersendiri, dapat berbincang walau satu kata
denganmu adalah suatu karunia yang terindah. Dan seperti yang terjadi pada
waktu itu, kau tersenyum dan mengangguk kepadaku adalah bagaikan suatu mukjizat
bagiku.
Tapi,
kadang kekecewaan dalam hatiku itu timbul, ketika kau pada waktu itu menulis
sesuatu melalui sosmed bahwa kau belum bisa bangkit dari masa lalumu dengan
wanita pujaanmu. Apakah tidak ada orang yang lebih baik darinya di dunia ini?
Dan
terakhir ini aku begitu kecewa ketika kau jarang berkomunikasi lagi denganku.
Kau bertanya lewat sms tanpa menyebut namaku, kau tak pernah respon
pembicaraanku di sosmed. Akan tetapi, dengan yang lainnya kau begitu akrab.
Wahai
anak adam, inilah caraku mencintaimu, mencintaimu dengan penuh kekecewaan, aku
tak dapat berkata apa apa untuk membela diriku, karena aku mencintaimu dalam
diam. Biarlah Sang Pencipta Hidup yang mengatur dan waktu yang akan menjawab
ini semua.
Comments
Post a Comment